1 Oktober 2011

Pengantar Ilmu Peternakan


Pengantar Ilmu Peternakan di daerah tropika berusaha memberi gambaran dan hal-hal khusus mengenai peternakan di Indonesia. Daerah tropik secara geografis terletak di antara garis Cancer, di utara katulistiwa dan garis Capricorn di selatan katulistiwa. Indonesia membentang sepanjang 5000 kilometer di daerah tropik ekuator dari 17o sampai 47o bujur timur dan dari 2o lintang utara sampai 13o lintang selatan terdapat 13.000 pulau penyusun Indonesia dengan luas 203 juta hektar.
   Adanya berbagai macam musim, iklim, perbedaan topografi dan komposisi tanah mengakibatkan terdapatnya beraneka ragam tanaman yang tumbuh di negara tersebut. Hal ini justru menunjang kemungkinan perkembangan peternakan. Banyak daerah yang tak cocok untuk ditanami tanaman yang dapat langsung dimanfaatkan manusia dan keadaan ini akan masih berlangsung puluhan tahun.
   Menaikkan produksi ternak ruminausia di daerah tersebut akan mempertinggi produktivitas tanah sehingga menunjang ekonomi keseluruhan tanpa bersaing dengan sumber bahan makanan manusia. Karena hijauan makanan ternak tak langsung berguna bagi manusia, produksi ternak rumenausia adalah cara terbaik untuk merubahnya menjadi hasil yang dapat dimanfaat manusia berupa makanan manusia dan hasi untuk keperluan lain, juga perbaikan kualitas dan cita rasa makanan tersebut.
   Ternak non-rumeninausia terutama unggas masih mengenyam (meng-konsumsi) ransum yang terdiri dari bahan makanan yang diperlukan manusia, misalnya: jagung, kedelai dan sebagainya. (butir cereal dan legium atau legume), sehingga banyak usaha untuk menggantikannya dengan builer yang kurang dimakan manusia, misalnya sorghum dan kacang-kacangan lain.
   Sebelum produksi ternak dinaikkan perlu dipertimbangkan penampungan pemasarannya dan penduduk harus mampu membeli hasil produksi ternak tersebut, jadi penting pula pertimbangan ekonomi dan sosial yang programnya sesuai dengan perbaikan kemampuan penduduk untuk mencukupi standard kehidupannya. Termasuk di dalamnya kemampuan membeli daging, air susu, telur  dan makanan lain yang diperlukan kenaikan produksi ternak harus disesuaikan dengan permintaan pasaran dalam dan luar negeri.
   Faktor yang membatasi pengembangan produksi ternak antara lain belum adanya standard harga ternakbiasa dan ternak bibit, harga makanan hijauan dan konsentrat, harga makanan suplemen, dan harga sarana prasarana peningkatan produksi. Permintaan akan hasil ternak dan harganya ditingkat peternak merupakan kunci yang dapat menentukan seberapa jauh, perkembangan dapat dilakukan, dan seberapa tinggi kualitas dan produktivitas ternak dapat ditingkatkan. Sebanyak 80 negara berkembang, termasuk Indonesia, mempunyai sejumlah 60% ternak dari populasi ternak dunia namun hanya menghasilkan 22% hasil daging, air susu dan telur dunia.
   Kebanyakan penghasil ternak di Indonesia masih belum menggunakan teknologi baru yang telah biasa digunakan di negara-negara maju, akibatnya  diperlukan waktu empat - lima tahun bagi ternak sapi  potong untuk mencapai berat potong. Jumlah ternak yang dipotong di Indonesia kurang dari 10 %, dibanding 12 % di Amerika Selatan dan 38 % di Amerika Serikat (Direktorat Bina Program, 1980). 

Pengaruh Iklim Terhadap Ternak

Produksi ternak di negara tropis dipengaruhi oleh iklim dengan 2 cara ; langsung dan tidak langsung.
Pengaruh langsung dapat dilihat pada : 1. Perilaku merumput
2.Pengambilan/penggunaan makanan
a. makanan yg dimakan        
b.Air yang diminum
c. Efesiensi penggunaan makanan
3. Pertumbuhan
4. Produksi susu
5. Reproduksi